1. Desain pemodelan grafis dari segi
interaksi manusia dan computer
Interaksi computer dengan manusia atau dengan bahasa
inggris dikenal dengan “human-computer interaction / HCI” merupakan ilmu yang
mempelajari hubungan antara computer dengan manusia yang meliputi perancangan,
evaluasi, dan juga implementasi antar muka pengguna computer agar mudah
digunakan oleh manusia.
Ilmu ini berusaha untuk menemukan cara yang paling
efektif untuk dapat merancang pesan secara elektronik, sedangkan interaksi
manusia da computer sendiri merupakan serangkaian proses, dialog dan kegiatan
yang dilakukan oleh manusia untuk berinteraksi dengan computer yang keduanya
saling memberikan masukan dan umpan balik melewati sebuah antar muka untuk
mendapatkan hasil akhir yang diharapkan.
Tujuan dari interaksi ini adalah agar memudahkan
manusia dalam melakukan pengoperasian terhadap computer dan memperoleh beberapa
umpan balik yang mereka perlukan selama mereka bekerja menggunakan computer dan
juga mengharapkan agar system computer yang dirancangnya dapat bersifat akrab
dan ramah dengan penggunanya (user friendly. Kita membutuhkan interaksi
tersebut agar kita bisa lebih cepat untuk menyelesaikan suatu pekerjaan serta
membuat waktu dalam prosesnya menjadi lebih cepat dan juga itu akan mempengaruhi
biaya yang akan dikeluarkan.
2.
Sejarah
dan Pengertian desain komunikasi visual
Ø Sejarah
Di Indonesia, Desain grafis dan cabang desain lainnya hadir
berkat digalakannya kolonilaisasi. Pada masa pendudukan Belanda,
pemerintahannya pernah menunjuk beberapa seniman untuk melakukan studi
landscape di Indonesia untuk merekam eksotisme negara ini yang kemudian
dituangkan dalam karya lukisan yang berkesan romantis dan beberapa teknk cetak
seperti wood engravingdan lithography. Karena memang
pada masa ini seni rupa Barat sedang merayakan romantisme yang kajian visualnya
seringkali ditujukan pada landscape dan peristiwa heroik, yang dikenal dengan
istilah ‘mooi indie’, atau hindia yang cantik. Berangkat darinyalah desain
grafis mulai diperkenakan secara tidak langsung kepada rakyat Indonesia.
penguasaan teknik cetak pun bukan dari akademi, namun sebatas dari obrolan dan
interaksi dengan orang asing. Mesin cetak pertama kali di datangkan ke pulau
Jawa pada tahun 1659. Karena tidak ada operatornya, mesin itu menganggur sampai
berpuluh-puluh tahun. Tujuan misionaris mendatangkan mesin cetak erat kaitannya
dengan niat mereka untuk mencetak kitab suci dan buku-buku pendidikan Kristen.
Selain mencetak kitab suci, mereka juga menerbitkan surat kabar berhaluan pendidikan
Kristen. moving image,display dan pameran. Sejak tahun 1979,
istilah desain komunikasi visual mulai dipakai menggantikan istilah desain
grafis.
Akhir 1970 dan seterusnya, tumbuh perusahaan-perusahaan desain
grafis yang sepenuhnya dipimpin oleh desainer grafis. Berbeda dengan biro
iklan, perusahaan-perusahaan ini mengkhususkan diri pada desain-desain
non-iklan, beberapa di antaranya adalah Vision (Karnadi Mardio), Grapik Grapos
Indonesia (Wagiono Sunarto, Djodjo Gozali, S Prinka dan Priyanto Sunarto), Citra
Indonesia (Tjahjono Abdi dan Hanny Kardinata) dan GUA Graphic (Gauri Nasution).
Di Bandung sebelumnya sudah ada design center Decenta yang didirikan pada tahun
1973, antara lain oleh AD Pirous, T Sutanto, Priyanto Sunarto, yang walau lebih
mengandalkan pada disiplin seni grafis juga menangani beragam produk desain
grafis, mulai sampul buku, kartu ucapan, logo, kalender, pameran dan elemen
estetis gedung.
Periode awal 1980 mencatat perkembangan jumlah perusahaan desain
grafis yang cukup signifikan di Jakarta, antara lain: Gugus Grafis (FX Harsono,
Gendut Riyanto), Polygon (Ade Rastiardi, Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (Iwan
Ramelan, Djodjo Gozali), dan di Bandung: Zee Studio (Iman Sujudi, Donny
Rachmansjah), MD Grafik (Markoes Djajadiningrat), Studio “OK!” (Indarsjah
Tirtawidjaja dkk), dll.
Menjelang akhir 1990-an, konsepsi baru seni global yang diberi
tajuk postmodernisme yang digalakan sampai sekarang ini membawa arus perubahan
dan kebaruan yang radikal dan kritis pada seni rupa Indonesia, tidak terlepas
seni grafis. Penyampaian idea yang dimiliki seiman pada karya dituangkan pada media
dan material yang dianggap tidak lazim pada masanya. Seperti lahirnya
performance art, instalasi, dan media lainnya yang unik dan mengundang
kontroversi. Seperti pada Bienalle IX Jogja yang sebagian besar karyanya
merayakan kehadiran potmodernisme dengan menjatuhkan pilihan pada instalasi.
Meskipun begitu, seniman grafis tetap mencoba memadukan teknik grafis dengan
media asing yang dinamai instalasi, sepreti yang dilakukan Marida Nasution pada
pameran ‘Taman Plastik’, Tisna Sanjaya dengan instalasinya yang berjudul ‘Seni
Grafis dan Sepakbola’, dan beberapa seniman lainnya yang mencoba tetap
menyisipkan corak seni grafis yang membentuk proses penciptaan karyanya
bersanding dengan arus deras kritisisme postmodernisme.
Lebih jauh lagi, eksplorasi media seni grafis kian berkembang
didukung oleh laju perkembangan teknologi yang kian pesat juga.
Teknologi-teknologi grafis mutakhir pun seperti c-print, digital print, dll
mulai dipertanyakan konvensinya. Beberapa pihak mencoba untuk mengamini hal
tersebut, namun banayak pihak yang ‘keukeuh’ menyuarakan seni grafis
konvensional lebih bernilai daripada seni grafis dengan media cetak mutakhir,
dengan anggapan terlalu mudahanya reproduksi yang ditawarkan media cetak baru
yang disokong teknologi sehingga dianggap makin menjauhkan dan membei jarak
seniman dari karyanya. Namun kalangan postmodernisme yang ekletis beranggapan
bahwa penciptaan karya seni tidak lagi dibatasi pada konvensinya, namun sejauh
apa seniman mampu mempertanggung jawabkan pemilihan penuangan ide karya pada
jenis media.
Selain perkembangan historikal di atas, hal menarik yang
terlihat pada perkembangan seni grafis Indonesia juga tampak pada dialog
Jogja-Bandung yang selalu hangat dibicarakan sampai saat ini, seperit pada seni
lukis, seni grafis pun mulai menampakkan kecenderungan karya yang berbeda antar
seniman Jogja dan Bandung. Secara umum, dari masa Sudjojono, bapak seni lukis
modern Indonesia, kecenderungan mazhab kedua kota ini memang berbeda, Jogja
yang lekat dengan kaitan seni dengan kehidupan sosial kemasyarakatan dan
Bandung dengan perayaan modernism pada karyanya. Pun pada akademi seni yang
dikembangkan oleh kedua kelompok seniman yang telah memiliki perbadaan visi
ini, Sekolah Guru Gambar yang kemudian menjadi ITB, dan ASRI yang kemudian
menjadi ISI Jogja. Perbedaan visi yang diturunkan para pendir akademi ini
kemudian berkembang dan kian mengerucut, sehingga kedua kecenderungan ini ramai
dibicarakan. Khususnya pada seni grafis, kecenderungan penggunaan media pun
mulai terlihat, hal ini boleh jadi disebabkan oleh ketersediaan mesin cetak dan
alat pendukung lainnya dalam berkarya seni grafis. ITB, dikenal sebgai
institusi yang memiliki mesin terlengkap di Indonesia melahirkan seniman yang
diberi kesempatan lebih untuk mengeksplorasi teknik grafis, sementara di Jogja,
kelangkaan mesin cetak datar dan kurang fungsionalnya mesin cetak dalam kemdian
megantarkan senimannya untuk amat menggeluti teknik cetak tinggi. Serigrafi,
kemudian menjadi media yang diminati kedua polar ini, karena kemudahan dalam
pengayaan media pendukungnya, namun tetap memiliki kecenderungan yang berbeda
dalam penyajian karyanya. Keterbatasan mesin ini kemudian tidak dikeluhkan para
penggrafis Jogja, mereka dengan giarnya menggeluti cukil kayu hingga mencapai
penguasaan teknis yang dapat dinilai amat baik. sementara di bandung, tradisi
kesadaran media menjadi hal yang sering dipertanyakan pada senimannya, karena
keleluasaan dalam pemilihan teknik cetak yang digunakan.
Seni grafis kontemporer Indonesia adalah cabang seni yang
dinilai amat kaya, baik secara visual mauoun ide yang diutuangkan senimannya.
proses berkarya grafis kemudian mempengaruhi kecenderungan berkarya para
senimannya kemudian melahirkan seniman yang memiliki pola kerja yang teratur
dan pemikiran yang terstruktur. Perkembangan seni grafis kontemporer Indonesia
kiranya dinilai amat berkembang dengan baik, eskplorasi teknis diaplikasikan
pada media yang dianggap kurang lazim dalam penyajian karya grafis. Dari
kertas, kanvas, kayu, bahkan akrilik. Perayaan teknologi pun memberikan banyak
opsi yang sangat banyak bagi seniman grafis untuk berkarya. Bahkan lebih jauh
lagi, pereneungan kontemplatif seniman kemudian melahirkan penyajian karya yang
menggunakan teknik cetak secara filosofis.
Ø Pengertian
Istilah Desain Komunikasi Visual
sudah sering didengar, namun masih saja banyak yang belum mengetahui sebenarnya
istilah tersebut dan sejauh mana ruang lingkup hingga pengaruhnya dalam
kehidupan kita sehari-hari. Sebagian orang secara gampang mengartikan Desain
Komunikasi Visual identik dengan tukang reklame atau pekerjaan tukang bikin
iklan di sepanjang jalan dengan papan nama yang bertuliskan advertising
menerima pesanan sepanduk satu jam jadi, cetak undangan, sablon dll. Itulah
gambaran sekilas dari sebagian masyarakat kita, sehingga mereka memandang
sebelah mata orang yang bergelut di dunia desain.
Ada juga sebagian orang yang mengira
bahwa Desain Komunikasi Visual ( DKV ) itu identik dengan iklan. Memang
tidaklah salah pernyataan tersebut, namun juga tidak sepenuhnya benar. Iklan
hanya salah satu bidang yang dihasilkan oleh desain komunikasi visual.
Sedangkan menurut suber dari
wikipedia Desain komunikasi visual atau lebih dikenal di kalangan civitas
akademik di Indonesia dengan singkatan DKV pada dasarnya merupakan istilah
penggambaran untuk proses pengolahan media dalam berkomunikasi mengenai
pengungkapan ide atau penyampaian informasi yang bisa terbaca atau terlihat.
Desain Komunikasi Visual erat kaitannya dengan penggunaan tanda-tanda (signs),
gambar (drawing), lambang dan simbol, ilmu dalam penulisan huruf (tipografi),
ilustrasi dan warna yang kesemuanya berkaitan dengan indera penglihatan.
Proses komunikasi disini melalui
eksplorasi ide-ide dengan penambahan gambar baik itu berupa foto, diagram dan
lain-lain serta warna selain penggunaan teks sehingga akan menghasilkan efek
terhadap pihak yang melihat. Efek yang dihasilkan tergantung dari tujuan yang
ingin disampaikan oleh penyampai pesan dan juga kemampuan dari penerima pesan
untuk menguraikannya.
Bagi kalangan praktisi periklanan
dan dunia akademik di bidang komunikasi istilah ini telah dikenal,
walaupun Desain Komunikasi Visual merupakan istilah yang baru (sebelumnya
dikenal dengan desain grafis). Kalangan akademis menyebutnya pun beragam, ada
yang menyebut sebagai DKV ( Dekave ) atau DISKOMVIS, yang merupakan akronim
dari Desain Komunikasi Visual.
3.
Perbedaan Desain
Komunikasi Visual dan Seni Murni
Desain
Komunikasi Visual adalah ilmu yang mengembangkan bentuk bahasa komunikasi
visual berupa pengolahan pesan-pesan untuk tujuan sosial atau komersial, dari
individu atau kelompok yang ditujukan kepada individu atau kelompok lainnya.
Pesan dapat berupa informasi produk, jasa atau gagasan yang disampaikan kepada
target audience, dalam upaya peningkatan usaha penjualan, peningkatan citra dan
publikasi program pemerintah.
Pada
prinsipnya desain komunikasi visual adalah perancangan untruk menyampaikan pola
pikir dari penyampaian pesan kepada penerima pesan, berupa bentuk visual yang
komunikatif, efektif, efisien dan tepat. terpola dan terpadu serta estetis,
melalui media tertentu sehingga dapat mengubah sikap positif sasaran. elemen
desain komunikasi visual adalah gambar/ foto, huruf, warna dan tata letak dalam
berbagai media. baik media cetak, massa, elektronika maupun audio visual. Akar
bidang desain komunikasi visual adalah komunikasi budaya, komunikasi sosial dan
komunikasi ekonomi.
Seedangkan Seni rupa murni adalah
seni yang diciptakan tanpa mempertimbangkan fungsinya tetapi untuk dinikmati
keindahannya. Seni rupa murni lebih bebas dan biasanya memiliki nilai estetika
yang tinggi. Fungsinya hanya sebagai pajangan dan tidak dapat digunakan untuk
mempermudah hidup kita. Contoh seni rupa murni adalah lukisan, kaligrafi, dan
patung. Karya seni rupa murni sering ditemukan di museum seni atau di dalam
bangunan sebagai pajangan atau penghias ruangan.
4.
Elemen-Elemen Desain Komunikasi visual
Ø Tata
Letak Perwajahan (Layout)
Pengertian layout
menurut Graphic Art Encyclopedia (1992:296) “Layout is arrangement of a book,
magazine, or other publication so that and illustration follow a desired format”.
Layout adalah merupakan pengaturan yang dilakukan pada buku, majalah, atau
bentuk publikasi lainnya, sehingga teks dan ilustrasi sesuai dengan bentuk yang
diharapkan.
Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa: “Layout includes directions for marginal data, pagination, marginal allowances, center headings and side head, placement of illustration.” Layout juga meliputi semua bentuk penempatan dan pengaturan untuk catatan tepi, pemberian gambar, penempatan garis tepi, penempatan ukuran dan bentuk ilustrasi. Menurut Smith (1985) dalam Sutopo (2002:174) mengatakan bahwa proses mengatur hal atau pembuatan layout adalah merangkaikan unsur tertentu menjadi susunan yang baik, sehingga mencapai tujuan.
Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa: “Layout includes directions for marginal data, pagination, marginal allowances, center headings and side head, placement of illustration.” Layout juga meliputi semua bentuk penempatan dan pengaturan untuk catatan tepi, pemberian gambar, penempatan garis tepi, penempatan ukuran dan bentuk ilustrasi. Menurut Smith (1985) dalam Sutopo (2002:174) mengatakan bahwa proses mengatur hal atau pembuatan layout adalah merangkaikan unsur tertentu menjadi susunan yang baik, sehingga mencapai tujuan.
Ø Tipografi
Menurut Frank Jefkins
(1997:248) tipografi merupakan:
“Seni memilih huruf, dari ratusan jumlah rancangan atau desain jenis huruf yang tersedia, menggabungkannya dengan jenis huruf yang berbeda, menggabungkan sejumlah kata yang sesuai dengan ruang yang tersedia, dan menandai naskah untuk proses typesetting, menggunakan ketebalan dan ukuran huruf yang berbeda. Tipografi yang baik mengarah pada keterbacaan dan kemenarikan, dan desain huruf tertentu dapat menciptakan gaya (style) dan karakter atau menjadi karakteristik subjek yang diiklankan.”Wirya (1999:32) mengatakan bahwa beberapat tipe huruf mengesankan nuansa-nuansa tertentu, seperti kesan berat, ringan, kuat, lembut, jelita, dan sifat-sifat atau nuansa yang lain.
“Seni memilih huruf, dari ratusan jumlah rancangan atau desain jenis huruf yang tersedia, menggabungkannya dengan jenis huruf yang berbeda, menggabungkan sejumlah kata yang sesuai dengan ruang yang tersedia, dan menandai naskah untuk proses typesetting, menggunakan ketebalan dan ukuran huruf yang berbeda. Tipografi yang baik mengarah pada keterbacaan dan kemenarikan, dan desain huruf tertentu dapat menciptakan gaya (style) dan karakter atau menjadi karakteristik subjek yang diiklankan.”Wirya (1999:32) mengatakan bahwa beberapat tipe huruf mengesankan nuansa-nuansa tertentu, seperti kesan berat, ringan, kuat, lembut, jelita, dan sifat-sifat atau nuansa yang lain.
Ø Ilustrasi
Ilustrasi dalam karya
desain komunikasi visual dibagi menjadi dua, yaitu ilustrasi yang dihasilkan
dengan tangan atau gambar dan ilustrasi yang dihasilkan oleh kamera atau
fotografi. Menurut Wirya (1999:32) ilustrasi dapat mengungkapkan sesuatu secara
lebih cepat dan lebih efektif daripada tekas.
Fungsi ilustrasi menurut
Pudjiastuti (1997:70) adalah: “Ilustrasi digunakan untuk membantu
mengkomunikasikan pesan dengan tepat dan cepat serta mempertegas sebagai
terjemahan dari sebuah judul, sehingga bisa membentuk suatu suasana penuh
emosi, dari gagasan seakan-akan nyata. Ilustrasi sebagai gambaran pesan yang
tak terbaca dan bisa mengurai cerita berupa gambar dan tulisan dalam bentuk
grafis informasi yang memikat. Dengan ilustrasi, maka pesan menjadi lebih
berkesan, karena pembaca akan lebih mudah mengingat gambar daripada kata-kata.
Ø Simbolisme
Simbolisme sangat
efektif digunakan sebagai sarana informasi untuk menjembatani perbedaan bahasa
yang digunakan karena sifatnya yang universal dibanding kata-kata atau bahasa.
Bentuk yang lebihh kompleks dari simbol adalah logo. Logo merupakan
identifikasi dari sebuah perusahaan karena logo harus mampu mencerminkan citra,
tujuan, jenis, serta objektivitasnya agar berbeda dari yang lainnya. Farbey
(1997:91) mengatakan bahwa banyak iklan memiliki elemen-elemen grafis yang
tidak hanya terdapat ilustrasi, tetapi juga terdapat muatan grafis yang penting
seperti logo perusahaan atau logo merek, simbol perusahaan, atau ilustrasi
produk.
Ø Warna
Warna merupakan elemen
penting yang dapat mempengaruhi sebuah desain. Pemilihan warna dan pengolahan
atau penggabungan satu dengan lainnya akan dapat memberikan suatu kesan atau
image yang khas dan memiliki karakter yang unik, karena setiap warna memiliki
sifat yang berbeda-beda. Danger (1992:51) menyatakan bahwa warna adalah salah
satu dari dua unsur yang menghasilkan daya tarik visual, dan kenyataannya warna
lebih berdaya tarik pada emosi daripada akal.
Ø Animasi
Penggunaan unsur-unsur
gerak atau disebut animasi khususnya dalam multimedia akan menimbulkan kesan
tersendiri bagi yang melihatnya. Istanto (2001:61) mengatakan bahwa konsep dari
animasi menggambarkan gerak sehingga dapat mendukung tampilan secara lebih
dinamis.
Berdasarkan teknis pembuatannya, animasi dibagi menjadi dua, yaitu:
• Animasi dua dimensi (2D), adalah animasi yang berkesan datar (flat), baik itu karakter maupun warnanya.
• Animasi tiga dimensi (3D), adalah karakter yang dibuat dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan adanya kesan mendalam atau berdimensi ruang.
Penggunaan animasi dalam sebuah desain multimedia dapat menjadikan tampilan menjadi lebih menarik dan dinamis. Pemilihan jenis animasi yang digunakan bergantung pada kebutuhannya sehingga desaian yang dihasilkan dapat lebih efektif dan efisien.
Berdasarkan teknis pembuatannya, animasi dibagi menjadi dua, yaitu:
• Animasi dua dimensi (2D), adalah animasi yang berkesan datar (flat), baik itu karakter maupun warnanya.
• Animasi tiga dimensi (3D), adalah karakter yang dibuat dapat dilihat dari berbagai sudut pandang dan adanya kesan mendalam atau berdimensi ruang.
Penggunaan animasi dalam sebuah desain multimedia dapat menjadikan tampilan menjadi lebih menarik dan dinamis. Pemilihan jenis animasi yang digunakan bergantung pada kebutuhannya sehingga desaian yang dihasilkan dapat lebih efektif dan efisien.
Ø Suara
Suara merupakan elemen
pendukung yang digunakan untuk lebih menghidupkan suasana interaksi. Dalam
multimedia interaktif, suara dibedakan menjadi dua, yaitu suara utama dan suara
pendukung. Suara utama adalah suara yang mengiringi pengguna selama interaksi
berlangsung, sedang suara pendukung merupakan suara yang terdapat pada
tombol-tombol
http://ilhampratamap.blogspot.co.id/2012/10/desain-pemodelan-grafis-dari-segi.html
pukul 14.30 . 9 November 2015
pukul
12.00.11November 2015
pukul
12.00.11November 2015
pukul
12.00.11November 2015
Komentar
Posting Komentar